Kamis, 23 Maret 2017

'Rindu Sang Ibu' Bocah 9th Asal Kalianda Bawa Uang 28 Ribu untuk ke Jawa

'Rindu Sang Ibu' Bocah 9th Asal Kalianda Bawa Uang 28 Ribu untuk ke Jawa

Penengahan, Kaliandanews - Bocah berumur 9 tahun asal Desa Pematang Kecamatan Kalianda Lampung Selatan, nekat pergi ke Pulau Jawa dengan hanya membawa uang 28 ribu rupiah, lantaran ingin bertemu ibunya.
Foto: Nabila (Jilbab Coklat) 
Ya, Nabila (9) Namanya. Gadis mungil yang bersekolah di SD Negeri 1 Kalianda itu, ditemukan sedang duduk di pinggiran sawah oleh salah seorang pencari rumput sekitar pukul 11:00 WIB (23/3) Kemarin, di kawasan Rumah Makan Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan Lampung Selatan.

Berdasarkan keterangan Aiptu Rusmansyah selaku kanit SPK Polsek Penengahan, bocah tersebut di temukan sendirian sedang duduk di area persawahan dan terlihat seperti orang kebingungan.

"Anak itu ditemuin warga yang sedang mencari rumput di dekat RM, sekitaran desa ruang tengah" Terangnya, Jumat (24/3).

Dikatakan Rusman, warga yang tidak mengenal anak itu, kemudian menanyakan tujuannya. Anak tersebut mengungkapkan, tujuannya tak lain untuk bertemu ibunya yang bekerja dipulau jawa. Berdasarkan keterang tersebut,  warga bergegas melaporkannya ke pihak yang berwajib. 

"Katanya dia kangen sama ibunya, makanya ia nekat ingin menyusul ke sana dengan hanya membawa uang 28ribu rupiah" Tambah Rusmansyah

Mendapati hal itu, Rusmansyah berinisiatif untuk memasang foto Nabila di akun Media Social miliknya, agar terlihat dan terbaca oleh masyarakat yang mengenalnya.

"Untungnya saya punya ide untuk memasang foto anak tersebut di akun media sosial milik saya, hingga akhirnya terbaca oleh kepala desa pematang yang selanjutnya menghubungi keluarga dari sianak ini ” tambahnya

Alhasil pada Pukul 19:00 Wib (23/3) malam, Shervit Herwan (44) yang merupakan ayah sambung dari nabilla, menjemput bocah tersebut untuk dibawa pulang.

”Yang kita takutkan saat ini adalah jikalau tadi nabila ketemu orang jahat saja, apalagi saat ini marak sekali kita dengar tentang penculikan anak dan saya harap agar orang tua dapat lebih mengawasi anaknya" Tutup Aiptu Rusmansyah. (nz)

Selasa, 07 Februari 2017

Bocah SD Penambang Pasir Sungai Berprestasi asal Penengahan Lampung Selatan

Bocah SD Penambang Pasir Sungai Berprestasi asal Penengahan Lampung Selatan

Pada umumnya anak yang masih mengenyam pendidikan senantiasa menikmati masa kanak-kanaknya, namun tak demikian dengan Dimas Nicolas Saputra (8). Sepulangnya bersekolah, Dimas justru harus meluangkan waktu bermainnya demi mengumpulkan berkarung-karung pasir dari sungai yang keruh untuk kemudian di jual.


Foto: Dimas Nicolas Saputra (8) Saat MEngkat Pasir Dari Sungai
"Saya kangen sama ibu (Tari), terakhir bertemu 4 tahun lalu dirumah nenek di Palembapang, sejak itu ibu sudah tidak ada kabar lagi"
KALIANDANEWS, KELATEN PENENGAHAN - Selasa (07/02/2017)

Pekerjaan menambang pasir dengan cara menyelam sebenarnya bukanlah hal yang mudah dan cukup berbahaya dilakukan anak seusianya. Tak jarang kakinya mendapatkan luka terkena bebatuan sungai. Meskipun tanpa adanya paksaan dari orang tua, Dimas tetap tak mengurungkan niatnya demi membantu keluarga. 

Foto: Dimas bersama Adit dan Dendi (KN)
Sepulang bersekolah, Bersama 2 orang rekannya, yakni Adit dan Dendi. Dimas bergegas pulang kerumah dan bersiap-siap pergi menyelam di sungai mengambil pasir. Pasir yang di ambil tak semerta-merta kemudian dijual, akan tetapi pasir-pasir tersebut di kumpulkan dahulu selama satu minggu dan kemudian baru dijual.

"Pulang sekolah langsung ke sungai buat nyari pasir, nyarinya kami nyelem sambil bawa karung, trus pasirnya di ambil pake tangan baru dimasukin kekarung. Biasanya 1 minggu kami dapat 110 ribu pak, terus kami bagi rata dapetnya" Ungkap Dimas.

Foto: Dimas Saat Pulang Sekolah (KN)
Dimas adalah anak pertama dari pasangan Helmi (34) dan Tari (27), ayah dimas seorang pekerja bangunan, sementara Ibunya bekerja di negeri sebrang sebagai TKW. Kepada Kaliandanews Dimas mengaku, sudah lama tak pernah bertemu ibu kandungnya, terakhir Dimas bertemu 4 tahun lalu dirumah neneknya. Namun Semenjak itu dimas tak pernah lagi bertemu ibunya, bahkan tak pernah mendapat kabar dari sang ibu.

"Saya kangen sama ibu (Tari), terakhir bertemu 4 tahun lalu dirumah nenek di Palembapang, sejak itu ibu sudah tidak ada kabar lagi. Uang tabungan saya udah 250 ribu, ditabung buat ongkos ketemu ibu. Kata ayah nanti pas libur panjang di anter sama ayah buat ketemu ibu" Harap Bocah kelahiran Malaysia ini.

Foto: Dimas saat di Wawancarai (KN)
Meski harus berjuang keras, Dimas tidak pernah sekalipun terpikir untuk putus sekolah. Ia tetap rajin pergi ke sekolah, bahkan kerap ia membawa buku pelajarannya saat hendak ke sungai.

"Kalau belajar malam harinya, kalo gak bawa buku ke sungai sama temen-temen yang lainnya juga, soalnya saya punya cita-cita jadi Polisi". Tutur Dimas dengan senyum kecilnya.

Dimas juga berharap, dari hasilnya mencari pasir itu, ia bisa membeli sebuah sepeda baru. Supaya dia bisa pergi kesekolah dengan menggunakan sepeda, karna Sepeda yang dia punya saat ini, sudah sering rusak dan tak layak pakai lagi.

"Ia saya juga pengen punya sepeda baru pak, biar bisa maen samas temen-temen, sama buat pergi kesekolah" Harapnya.

Bocah sederhana penuh semangat yang tinggal di Dusun Pahabung Desa Ruang Tengah Kecamatan Penengahan ini, merupakan siswa kelas 3 di SD 1 Kelaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Meskipun ditengah kondisinya yang cukup memprihatinkan, tak pula mengurangi semangat untuk mengukir prestasi di sekolahnya. Terbukti, Dimas menjadi salah seorang Atlit renang yang mewakili SD 1 Kelaten untuk mengikuti lomba di tingkat Daerah.

Foto: Dimas membaca buku pelajaran di Sungai (KN)
Subiyati (54) menuturkan, Dimas adalah termasuk anak yang rajin dan berprestasi, ia pernah mengikuti lomba renang dan mendapatkan juara. Ia juga tak pernah telat ketika hendak bersekolah. Menurutnnya Dimas adalah anak yang patut di contoh sebagai Motivasi bagi anak-anak lainnya.

"ditengah keterbatasan Ekonomi, Dimas termasuk siswa berprestasi terutama di Bidang olahraga Renang, saya bina 1 minggu sekali dia latihan berenang di hidayah kuring kalau gak di stadion untuk persiapan mengikuti perlombaan. Dia jago berenangnya sama pernapasannya kuat, mugkin karna dia sering nyelam untuk cari pasir itu. Kalo dia mengeluh kecapean pas latihan renang, langsung saya suruh berenti karna kasian, maklum dia kecapean abis cari Pasir di sungai" Tutur Guru Olahraga Dimas.

Sementara Wali Kelas Dimas mengatakan, meskipun kondisinya seperti itu, namun semangatnya luar biasa dan cukup aktiv di sekolahnya. Nilainya cukup baik terutama dibidang olahraga.

"kalau Sekolahnya biasa seperti anak-anak yang lainnya, tapi semangatnya luar biasa dan aktiv di sekolah, nilainya Lumayan baik, dia Olahraganya Bagus terutama Renang. Makanya dia di ambil buat lomba juga, mungkin karna aktifitasnya mencari Pasir jadinya fisiknya kuat". Pungkas Eka Yuli Perwitasari (28).

Semoga kelak dikemudian hari, Dimas bisa menjadi anak yang Sukses dan Berprestasi bagi Nusa dan Bangsa. (nz)

Jumat, 03 Februari 2017

50M Lebih Uang Ganti Rugi Tol Tak Jelas! Warga Desa Kuripan Lamsel Resah

50M Lebih Uang Ganti Rugi Tol Tak Jelas! Warga Desa Kuripan Lamsel Resah

Warga Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan mulai resah dan merasa dirugikan, akibat ketidakjelasan jadwal pencairan uang ganti rugi Ruas Tol Bakauheni - Terbanggi Besar.
Foto: Lahan Warga Yang Terbengkalai (KN) 
KALIANDANEWS, KURIPAN PENENGAHAN - Jum’at (03/02/2017)

Hiruk pikuk permasalahan uang ganti rugi pembebasan lahan TOL, nampaknya kerap kali terjadi di kawasan Lampung Selatan ini. Salah satunya seperti yang terjadi di Desa Kuripan, kini sebagian besar warga Kahuripan mengaku mulai resah, lantaran pihak TOL tidak bisa memberikan kepastian, kapan uang ganti rugi akan di bayarkan kepada warga yang lahannya masuk dalam kawasan TOL.

Sebab, sudah 1 bulan lebih warga menunggu kepastian pencairan uang ganti rugi yang nilainya cukup fantasis itu, sekitar 50 MILIAR lebih untuk 115 bidang Lahan. Padahal pihak Tol berjanji akan segera mencairkan uang ganti rugi itu, terhitung 15 hari sejak sosialisasi pembahasan harga pada awal Desember tahun lalu di Desa setempat. Bahkan, sejak 3 bulan lalu, warga Kuripan sudah tak di izinkan lagi untuk menggarap lahan milik mereka, yang notabennya lahan tersebut adalah tempat mereka mengais rezeki.

Kelijo (53) mengatakan, dirinya sudah tidak menggarap sawah miliknya lagi, karena sebelumnya pihak Tol sudah memperingatkan, untuk tidak mengelola lahan yang terkena pembebasan lahan, yang artinya penggusuran lahan akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Padahal jika digarap, mungkin saat ini sudah bisa di panen.

"Dulu pihak tol sudah melarang kami untuk menggarap sawah maupun kebun, katanya apabila kami tanamin, mereka tidak tanggung jawab jika sewaktu waktu dilakukan penggusuran. Tapi nyatanya? sampai sekarang belum di gusur juga, kalau tau begini kami garap aja sawahnya, mungkin sekarang sudah panen. Coba bayangin sudah 3 bulan kami gak kerja, mau dapat penghasilan darimana kalau bukan dari situ". Ungkap salah satu warga yang sawahnya masuk dalam Kawasan Pembebasan lahan.

Sementara Alfa (30) mengatakan, pihak TOL terkesan seperti mengulur-ngulur waktu untuk melakukan proses pencairan. Pihak TOL pun hingga kini tidak pernah memberikan konfirmasi terkait molornya pencarian dana tersebut.

"Saya sudah nanya sama pihak PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero, katanya mereka tidak tahu menahu soal itu, karna mereka hanya sebagai pelaksana saja. Saya juga sudah tanya pada pihak bank BNI karna mereka yang ikut rapat waktu itu, setelah saya tanya mereka bilang, masih menunggu pihak Bank Mandiri mengirimkan ke BNI. Sebab pihak BNI mengaku hanya sebagai penyalur." Ujar Alfa.

Senada dengan Alfa, Wahyudin (45) menambahkan, dirinya juga mengaku kecewa atas kejadian ini. Menurutnya pihak TOL tidak perlu menjanjikan kapan waktu pastinya.

“Pihak TOL seharusnya gak perlu bilang 15 hari atau berapa, kalu begini kan kami jadi nunggu-nunggu, sehingga membuat kami resah. Sementara kebun kami sudah tidak kami urus lagi”. Keluh Yudin.

Di tempat yang sama, Irwan Ahmadi (45) selaku Kepala Desa Setempat menjelaskan, pihaknya sudah beberapa kali menghubungi pihak PP, tapi mereka juga tidak tahu terkait permasalahan tersebut. Sementara untuk mekanisme pencairan dana itu, dirinya mengaku tak begitu mengetahuinya dengan jelas.

“Ya saya sebagai kepala desa hanya bisa menampung keluhan warga saya, saya harap juga pihak TOL segera melakukan konfirmasi, agar warga kami juga tidak resah dan bertanya-tanya kapan dana itu akan dicairkan” Harap Irwan.

Terpisah saat Kaliandanews mengkonfirmasi PT.PP Setempat, Yus Yusuf membenarkan bahwa pihaknya hanya sebagai pelaksana pekerjaan saja, kendati demikian menurutnya pihak yang berwenang atas permasalahan tersebut ialah pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Lampung.

“Biasanya kalau terlambat seperti itu, ada berkasnya yang kurang atau mungkin waktu itu juga pernah terjadi, berkasnya yang sudah dikirim ke pusat dikembalikan lagi karna ada kesalahan atau kekurangan. Jadi prosesnya ngulang dari awal. Tapi kami tidak tahu juga kenapa, karna pihak PPK Lahan dinas PU Prov Lampung yang tau lebih jelasnya untuk mekanisme soal pencairan itu” Tutup Humas PT. Pembangunan Perumahan (PP) Persero Wilayah Bakauheni - Sidomulyo. (nz)